Saat ini pergerakan mata uang crypto terlihat terjadi secara signifikan. Semua terjadi bersama apresiasi mata uang crypto yang terlihat naik sejak awal 2021.

Selain itu, adopsi ini juga terlihat terjadi sejak adanya industri 4.0 yang mendorong digitalisasi dari seluruh aspek perekonomian. Urgensi dari digitalisasi ini semakin meningkat terutama dengan adanya Covid-19.

Adopsi Mata Uang Digital

Hal ini disebabkan Covid-19 telah menghambat perekonomian terutama dengan terhambatnya kontak fisik yang dilarang akibat pandemi. Sehingga masyarakat membutuhkan alat tukar tanpa fisik yang membuat digitalisasi menjadi semakin penting.

Dengan adanya pertumbuhan fintech, saat ini mata uang digital menjadi semakin logis dan nampaknya mayoritas bank sentral di dunia mulai menyadarinya. Hal ini disebabkan bank sentral memerlukan alat tukar yang mengikuti perkembangan zaman.

Namun kebutuhan utama tetap berada di alat tukar yang dapat mempermudah pergerakan roda perekonomian dalam masa pandemi ini. Sehingga, bank sentral tetap dapat meregulasi dan menjalankan transmisi kebijakan moneter dalam adaptasi dengan kondisi.

Saat ini salah satu langkah yang nampak dilakukan oleh mayoritas bank sentral di dunia adalah mata uang digital bank sentral. Rencana ini terlihat sudah cukup matang walau belum ada kepastian realisasi.

Beberapa bank sentral yang terlihat akan menerapkan hal tersebut adalah Bank Sentral Indonesia, Amerika, Cina, dan beberapa negara lainnya.

Masih Belum Mendukung Crypto

Namun, dengan adanya rencana ini, mayoritas bank sental masih belum mendukung mata uang crypto. Hal ini disebabkan mayoritas bank sentral masih menginginkan kendali terhadap perekonomian yang sulit didapatkan dari crypto.

Sebab, crypto merupakan sebuah alat tukar yang bertujuan untuk menciptakan desentralisasi sehingga berlawanan dengan bank sentral. Crypto memiliki tujuan untuk mempermudah perpindahan alat tukar tanpa pihak ketiga, sehingga menghilangkan peran bank sentral.

Baca juga: Peter Brandt Memberikan Pandangannya Terhadap Bitcoin dan XRP

Oleh karena itu, beberapa pihak masih menolak keberadaan mata uang crypto untuk implementasi secara nyata. Tetapi beberapa kepala bank sentral di dunia juga masih terpecah akibat ada yang terbuka dan ada yang tertutup.

Contoh pihak yang tertutup adalah Bank Indonesia dengan kepalanya yang masih menolak keberadaan crypto terutama untuk alat tukar. Contoh pihak yang terbuka adalah The Fed yang masih terbuka terhadap ide adopsi mata uang crypto.

Oleh karena itu, digitalisasi ini belum berarti adopsi mata uang crypto akibat kemungkinan besar hanya perbedaan bentuk dalam mata uang fiat. Sehingga, nampaknya crypto masih butuh waktu untuk diakui.