Inflasi Indonesia dikabarkan telah mengalami apresiasi pada November 2020 dari bulan sebelumnya. Data ini menjadi pertanda bahwa perputaran uang mulai bertambah yang menandakan mulai pemulihannya stagnasi ekonomi.

Inflasi Indonesia Naik

Setelah mengalami penurunan dari sejak Bulan Maret 2020, angka inflasi Indonesia mulai mengalami pemulihan. Pemulihan ini nampaknya terus terlihat sejak September 2020 dan November 2020 merupakan apresiasi tertingginya.

Data yang terlihat naik kurang lebih sekitar 0.15% ini merupakan salah satu pertanda apresiasi yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan sebelumnya apresiasi hanya terjadi sekitar 0.02%, namun dengan ini kemungkinan besar merupakan pertanda perekonomian mulai kembali pulih.

Naiknya inflasi ini juga merupakan bukti efektivitas dari kebijakan moneter ekspansif yang juga diterapkan oleh Bank Indonesia. Hal ini disebabkan Bank Indonesia baru saja memotong suku bunga acuan dari sebelumnya 4% selama 4 bulan menjadi 3,75%.

Kemungkinan besar dengan dorongan kebijakan ini, Indonesia akan mulai pulih dan terus mendorong pergerakan roda perekonomian. Selain itu, dengan banyaknya sentimen positif yang sedang beredar di pasar global akibat kemungkinan stabilitas politik dan vaksin, nampaknya Indonesia juga ikut terdampak.

Dampak Terhadap Rupiah

Niat awal dari peningkatan kebijakan ekspansif tersebut adalah untuk mendorong roda perekonomian agar pulih lebih cepat. Namun, walau sudah terbukti efektif dari inflasi, nampaknya secara implisit, kebijakan ini ditujukan untuk menjaga nilai Rupiah.

Hal ini disebabkan dari apresiasi Rupiah yang terlihat sangat kuat terhadap beberapa mata uang dunia sebelum pemotongan suku bunga acuan diterapkan. Namun terlihat bahwa setelah diterapkan, nilai rupiah mulai turun kembali, terutama terhadap Dolar Amerika.

Baca juga: Dolar Australia Diprediksi Menguat Terhadap Dolar Amerika

Hal ini bukan merupakan hal yang buruk akibat perlunya stabilitas Rupiah untuk terus dijaga agar tidak naik terlalu berlebihan. Jika Rupiah naik terlalu berlebihan, Indonesia akan mengalami penurunan dalam permintaan barang, akibat terlalu mahal, yang juga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Sehingga, konsolidasi nilai Rupiah saat ini bukan merupakan hal yang sangat buruk akibat ada manfaatnya terhadap perekonomian. Tetapi, kemungkinan besar Rupiah akan kembali menguat terhadap Dolar Amerika akibat sentimen di sekitar Dolar Amerika yang menurunkan nilainya.

Oleh karena itu, kemungkinan besar akan ada penyesuaian kembali oleh Bank Sentral melalui cara yang belum diketahui. Namun kemungkinan besar dalam jangka pendek Rupiah akan kembali menguat akibat juga sentimen global yang tertuju pada aset berisiko seperti Rupiah.

Tags: