Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) awal pekan ini diprediksi berada di kisaran 6.823 – 6.996. CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan, perkembangan pergerakan IHSG terlihat masih betah dalam area konsolidasi wajar dengan potensi tekanan yang masih cukup besar dalam rentang jangka pendek.

“Sehingga pola pergerakan hingga beberapa waktu mendatang masih cenderung bergerak sideways, sedangkan momentum ini merupakan momentum yang dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi pembelian dengan target investasi jangka panjang,” kata William dalam risetnya, Senin (14/3/2022).

Namun masih minimnya sentimen cukup menjadi tantangan untuk dapat mendorong kenaikan IHSG.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melemah tipis 0,08% ke 6.922,602 selama sepekan lalu. Di pasar reguler, investor asing masih melakukan beli bersih atawa net buy sebesar Rp 1,3 triliun selama sepekan.

Asing melakukan aksi beli bersih (net buy) di pasar reguler senilai Rp 1,30 triliun sepanjang pekan ini. Tapi secara total, asing mencatat jual bersih Rp 10,67 triliun di seluruh pasar dalam sepekan.

Tetapi di pasar nego dan tunai terjadi net sell nyaris Rp 12 triliun. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 108 triliun.

Perang Rusia dan Ukraina masih menjadi penekan bursa saham global minggu lalu. Pasukan Rusia yang dilaporkan semakin mendekati ibu kota Ukraina, Kyiv, membuat sentimen pelaku pasar memburuk sejak Kamis malam yang membuat bursa saham Eropa dan Amerika Serikat (AS) jeblok, bursa Asia pun menyusul kemarin.

Baca juga: Euro Turun ke Level Terendah Karena Ketegangan Ukraina Kian Memanas

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street kembali merosot selama sepekan lalu. Perang Rusia dengan Ukraina terus memberikan sentimen negatif ke pasar saham global, khususnya Wall Street dan Eropa.

Melansir data Refinitiv, indeks Dow Jones melemah 0,7% ke 32.944,19 pada Jumat (11/3). Selama seminggu Dow Jones jeblok lebih dari 1,3%.

Indeks S&P 500 pada Jumat merosot 1,3% ke 4.204,31, Nasdaq paling parah anjlok 2,18% ke 12.843,81. Dalam seminggu kedua indeks tersebut minus 1,8% dan 3,5%

Perang Rusia dengan Ukraina yang dimulai sejak 24 Februari lalu terus membuat Wall Street terpuruk, meski ada sedikit kabar baik.

Presiden Rusia, Vladimir Putin pada Jumat waktu setempat mengatakan ada “arah positif di beberapa bagian” dalam pembicaraan dengan Ukraina. Sementara itu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan perang dengan Rusia sudah mencapai “titik balik strategis”.

Meski demikian, perundingan kedua negara tidak membahas mengenai gencatan senjata.

“Bursa saham kembali merah di minggu ini, sebab harapan adanya gencatan senjata berakhir mengecewakan, dan menambah lebih banyak ketidakpastian,” kata Ryan Detrick dari LPL Financial sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (11/3).

Selain itu, University of Michigan melaporkan indeks keyakinan konsumen Amerika Serikat jeblok menjadi 59,7 di bulan Maret dari bulan sebelumnya 62,8. Angka indeks tersebut menjadi yang terendah sejak September 2011.

“Kabar mengenai jebloknya indeks keyakinan konsumen menunjukkan rumah tangga cemas akan tingginya inflasi dan bisa berdampak pada perlambatan ekonomi yang serius bahkan mungkin resesi,” kata Jim Paulson, kepala investasi strategis di Leuthold Group

 

Sumber

Baca juga: Bitcoin Anjlok ke $34.500 saat Rusia Menyerang Ukraina