Dollar Singapura – Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) mengindikasikan akan kembali mengetatkan kebijakan moneternya jika inflasi terus menanjak. Alhasil nilai tukar dolar Singapura kembali menguat melawan rupiah perdagangan Rabu (3/11).

Pada pukul 10:35 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.584,05, dolar Singapura menguat 0,22% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Seperti diketahui sebelumnya, pada 14 Oktober lalu MAS menaikkan kemiringan (slope) S$NEER (Singapore dollar nominal effective exchange rate) dari sebelumnya di dekat 0%. Sementara lebar (width) dan titik tengah (centre) masih tetap.

Slope berfungsi membuat penguatan/penurunan dolar Singapura lebih cepat/lambat. Ketika slope dinaikkan, maka dolar Singapura bisa menguat lebih cepat, begitu juga sebaliknya.

Untuk diketahui, di Singapura, tidak ada suku bunga acuan, kebijakannya menggunakan S$NEER.  Kebijakan moneter, apakah itu longgar atau ketat, dilakukan dengan cara menetapkan kisaran nilai dan nilai tengah dolar Singapura terhadap mata uang negara mitra dagang utama. Kisaran maupun nilai tengah itu tidak diumbar kepada publik.

Kemarin salah satu pejabat MAS, Ravi Menon, mengatakan otoritas saat ini sedang mengamati tanda-tanda inflasi semakin meningkat dan siap untuk bertindak guna meredamnya.

“Secara keseluruhan, sata akan mengatakan risiko yang dihadapi perekonomian saat ini beralih ke inflasi. Kami akan mengamati dengan seksama risiko inflasi yang semakin tinggi, dan kami siap untuk bertindak,” kata Menon dalam wawancara dengan Bloomberg TV, sebagaimana diwartakan The Straits Times, Selasa (2/11).

Pada pekan lalu, dalam review makroekonomi, MAS menyatakan disrupsi rantai pasokan menjadi penyebab tingginya inflasi dan kemungkinan akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Inflasi inti yang tidak memasukkan biaya transportasi dan akomodasi dalam perhitungan di akhir tahun ini akan berada di batas atas 0% sampai 1%, dan akan terakselerasi menjadi 1% hingga 2% di tahun depan. Sementara inflasi akan berada di 2% di tahun ini, dan rata-rata 1,5% hingga 2,5% di tahun depan.

Jika MAS kembali mengetatkan kebijakan moneternya, maka Bank Indonesia (BI) akan semakin ‘tertinggal’ dalam mengetatkan kebijakan moneter. Sebab, inflasi di Indonesia masih rendah.

Suku bunga rendah sebenarnya bagus untuk perekonomian Indonesia, tetapi ketika negara lain mengetatkan kebijakannya, maka selisih imbal hasil investasi akan menyempit, dan berdampak negatif bagi rupiah.

Sumber

Baca juga: Pasar Saham Singapura Naik Drastis Lima Sesi Beruntun!

Tags: