Nilai tukar rupiah kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Senin (17/10/2022) setelah jeblok lebih dari 1% sepanjang pekan lalu. Tekanan bagi rupiah masih datang dari eksternal, sementara dari dalam negeri pelaku pasar hari ini menanti rilis data neraca perdagangan.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di Rp 15.465/US$, melemah 0,26% di pasar spot. Depresiasi bertambah menjadi 0,29% ke Rp 15.470/US$ pada pukul 9:03 WIB. Rupiah pun semakin dekat dengan Rp 15.500/US$.

Bank sentral AS (The Fed) yang akan terus agresif menaikkan suku bunga, serta isu resesi dunia menjadi kombinasi sempurna yang membuat dolar AS sangat perkasa.

Seperti diketahui rilis data tenaga kerja dan Inflasi AS menguatkan ekspektasi The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada bulan November, menjadi 4% – 4,25%.

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini akan merilis data neraca perdagangan.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga memperkirakan surplus neraca perdagangan pada September sebesar US$ 4,85 miliar. Surplus jauh lebih rendah dibandingkan Agustus 2022 yang mencapai US$ 5,76 miliar.

Baca juga: Blibli.com IPO, Bidik Dana Rp 8 Triliun!

Penurunan tersebut terjadi akibat pelambatan pertumbuhan ekonomi China, serta melandainya harga komoditas.

Kepala ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan ekspor akan melandai pada September sejalan dengan anjloknya harga minyak sawit mentah.

Menurut data Refinitiv, rata-rata harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ambles 10,3% sebulan pada September lalu. CPO berkontribusi terhadap 13% total ekspor Indonesia sehingga penurunan harga CPO bisa berdampak besar terhadap total ekspor.

Andry menambahkan penurunan PMI Manufaktur China bisa berimbas pada melambatnya permintaan impor Negara Tirai Bambu. PMI China melambat ke 48,1 pada September dari 49,5 pada Agustus. Artinya, PMI China sudah tidak berada dalam fase ekspansif selama dua beruntun.

Perlambatan permintaan dari China tengah banyak disorot. Konsumsi warga China selama libur panjang Golden Week pada awal Oktober 2022 adalah yang terendah dalam tujuh tahun terakhir.

 

Sumber

Baca juga: Apa Itu Dilusi Saham dalam Pasar Modal? Cek di Sini!

Tags: