Indeks dolar Amerika Serikat anjlok pada perdagangan Selasa (04/10). Semakin menjauhi level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun terakhir di 114,77 yang dicapai pada Rabu (28/9/2022) pekan lalu.

Melansir data Refinitiv, indeks dolar AS jeblok hingga 1,5% ke 110.06. Dalam 5 hari perdagangan merosot sebanyak 4 kali.

Jebloknya indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut juga membuat rupiah menguat 0,36% ke Rp 15.245/US$ kemarin. Berpeluang berlanjut lagi pada perdagangan Rabu (5/10/2022).

Jebloknya indeks dolar AS mengikuti pergerakan yield obligasi (Treasury) Amerika Serikat. Banyak analis melihat Penurunan keduanya terkait ekspektasi atau pandangan suku bunga Th Fed (bank sentral AS).

“Kita melihat penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga di seluruh pasar finansial setelah bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) menaikkan suku bunga 25 basis poin, lebih rendah dari ekspektasi 50 basis poin,” kata Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Corpay Toronto, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (4/10/2022).

Ed Yardeni, veteran pemain pasar, memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga satu kali lagi, pada November. Setelahnya, bank sentral pimpinan Jerome Powell ini akan menghentikan periode kenaikan suku bunga akibat dolar AS yang terlalu perkasa.

Baca juga: Rupiah Koreksi Lagi, Sentuh Rp15.280 per Dolar AS

“Saya rasa The Fed merusak sesuatu. Apa yang rusak adalah dolar AS karena terlalu kuat. Melesatnya dolar AS dikaitkan dengan krisis finansial global. Kita harus memiliki pandangan global dalam hal ini, kebijakan moneter yang ketat di AS memiliki dampak yang luar biasa ke seluruh dunia, terutama di negara berkembang,” kata Yardani, sebagaimana dikutip Reuters.

Kebijakan moneter The Fed yang terlalu ketat akan mengacaukan stabilitas finansial, dan para pejabatnya dikatakan harus menyadari hal tersebut.

“Saya pikir mereka akan menaikkan suku bunga sekali lagi di bulan November, sebab stabilitas finansial akan menjadi perhatian mereka,” ujar Yardani.
Yardani juga mengatakan wakil ketua The Fed, Lael Brainard pada Jumat pekan lalu mengindikasikan ia sangat memperhatikan kondisi stabilitas finansial saat ini.

Jika benar suku bunga hanya akan dinaikkan sekali lagi saja, maka dolar AS akan semakin terpuruk dan rupiah bisa menguat lagi.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro, memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tahun ini akan bergerak di kisaran 14.688-14.675. Sementara pada tahun 2023 mendatang diperkirakan akan berada di level 14.858-14.886.

 

Sumber

Baca juga: Mengenal Saham Blue-chip dan Keuntungannya!