Tapering – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat 0,52% ke level 6.586,44 hingga akhir perdagangan Rabu (04/11/2021).

Indeks bergerak di rentang 6.583 hingga 6.618 pada perdagangan intraday hari ini. Sebanyak 328 saham menguat, 191 melemah dan 154 stagnan.

Hampir semua indeks sektoral menguat. Jawara indeks sektoral hingga sesi I adalah sektor utilitas, energi dan basic materials. Transaksi tembus Rp 11,05 triliun dan asing beli bersih di pasar reguler senilai Rp 316,71 miliar.

Saham yang banyak diborong asing adalah saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net buy masing-masing sebesar Rp 179,5 miliar dan Rp 136,9 miliar.

Saham yang banyak dilego asing adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan net sell masing-masing sebesar Rp 66 miliar dan Rp44,6 miliar.

Bank sentral AS, Laju injeksi likuiditas telah dikurangi sebesar US$ 15 miliar per bulan. Namun pasar tidak bereaksi negatif seperti pada tahun 2013 silam.

Pasar saham AS justru ditutup menguat semalam. Indeks Dow Jones naik 0,29%. Indeks S&P 500 menguat 0,65% dan Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan apresiasi 1,04%.

Kenaikan harga saham di Wall Street menjadi katalis positif bagi IHSG. Di sisi lain pasar juga sudah mengantisipasi adanya tapering. Secara kebijakan tidak ada surprise. Semua sudah sesuai proyeksi. Alhasil pasar tak reaktif.

“Ada beberapa alasan pengetatan kebijakan moneter di AS tidak akan menyebabkan eksodus arus modal asing di negara berkembang seperti 2013. Pertama,yield(imbal hasil) obligasi pemerintah AS sekarang malah turun, tidak sepertitaper tantrum2013. Kedua, pelaku pasar punya waktu berbulan-bulan karena The Fed telah melakukan komunikasi sebelumnya.

“Ketiga, ketahanan eksternal negara-negara berkembang sekarang semakin kuat sehingga mampu meredam tekanan. Defisit transaksi berjalan (current account deficit) membaik, demikian pula cadangan devisa. Keempat, kredibilitas bank sentral negara-negara berkembang pun kini lebih kuat,” papar riset Citi.

Oleh karena itu, rasanya dampak tapering ke pasar keuangan Asia (termasuk Indonesia) bakal minimal. Risiko koreksi tentu ada, tetapikokkemungkinan tidak sampai terjadi aksi jual massal (sell-off). Semua aman terkendali bin kondusif.

Lagipula secara fundamental aset-aset keuangan domestik juga ditopang oleh kondisi makro yang lebih favorable seperti volatilitas rupiah yang rendah dan cenderung menguat, CAD rendah dan cadangan devisa tinggi.

Kombinasi hal tersebut membuat harga saham ikut terkerek naik akibat risk appetite investor yang tetap terjaga.

Jadi, sejauh ini Tapering tidak membuat IHSG kebakaran janggut bukan?

Sumber

Baca juga: Tapering Off Mulai Berlaku, Ini Imbasnya Bagi Indonesia

Tags: