Penyebab Rupiah Terus Melemah, Apa Saja Sih?

Rupiah terus menerus melemah terhadap dolar AS, menembus level psikologis Rp15,000/US$ dalam sebulan terakhir, dan kini menatap angka Rp16,000. Apa penyebabnya?

Kemarin, rupiah di tutup tembus ke Rp 15.495/US$, melemah 0,19% di pasar spot. Dengan demikian, rupiah masih berada di posisi terlemahnya dalam 2,5 tahun terakhir. Tepatnya sejak 30 April 2020.

Tak hanya rupiah saja, mata uang Asia-Pasifik juga kompak melemah dihadapan sang greenback. Tapi khusus untuk rupiah, berikut setidaknya lima alasan mengapa mata uang garuda terus-terusan melemah.

Pertama adalah repatriasi dolar AS oleh perusahaan-perusahaan asing yang hendak membagikan keuntungan atau dividen kepada si pemilik. Mereka, biasanya menukarkan pendapatan mereka dalam rupiah menjadi dolar AS untuk di transfer ke rekening pemilik.

Jumlah mereka cukup banyak dan meningkat, sehingga membuat permintaan dolar AS meningkat. Buktinya, bisa dilacak dari data investasi milik Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dimana nilai realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) naik.

Realisasi PMA naik dari US$7,7 miliar pada kuartal pertama 2021, menjadi US$11,4 miliar pada kuartal II tahun ini.

Kebutuhan ini belum termasuk perusahaan Indonesia yang hendak membayar utang dalam bentuk dolar AS. Ambil contoh, kelompok usaha Bakrie yang baru-baru ini menerbitkan saham baru senilai US$1,6 miliar yang hasilnya akan dipakai untuk membayar utang.

Kedua, ada kebutuhan impor yang cukup tinggi atas barang konstruksi. Beberapa trader valas mengatakan, sejumlah perusahaan konstruksi membeli dolar AS untuk membiayai pembelian barang dari luar negeri.

Alasan ini juga bisa di kroscek dengan data BKPM. Data PMA dari BKPM menunjukkan ada realisasi investasi asing senilai USS$1 miliar pada sekror perumahan, kawasan industri dan perkantoran sementara.

Baca juga: Ini Dia Penyebab Rupiah Anjlok, Simak Penjelasan BI

Kebutuhan dolar untuk konstruksi juga dibutuhkan oleh proyek strategis yang mengikutsertakan investasi asing, seperti Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, atau perpanjangan jalur MRT di Jakarta. Kedua proyek ini membutuhkan barang komponen impor cukup tinggi.

Ketiga, perbedaan tingkat suku bunga acuan di AS dan Indonesia yang masih rendah, sehingga membuat sejumlah trader bersepekulasi bahwa mata uang garuda memang pantas melemah.

Alasan ini juga beriringan dengan mata uang Yuan yang ikut melemah terhadap dolar AS. Yuan kerap menjadi acuan pergerakan rupiah, karena ia merepresentasikan mata uang yang bersinggungan langsung dengan partner dagang utama AS, yaitu China.

Pelemahan yuan, lazim diikuti oleh pelemahan rupiah, karena nilai barang kedua negara sama-sama menjadi lebih murah di mata AS.

Keempat, adanya kehawatiran akan pasokan dolar AS yang mengerut menjelang akhir tahun. Alasan ini di dasari oleh gembar-gembor akan kacau balaunya kondisi ekonomi dunia 2023-yang bahkan di umbar Presiden Jokowi dan Menkeu Sri Mulyani.

Dalam istilah investasi namanya, risk-averse atau menghindari risiko terburuk dari situasi ekonomi sehingga pelan-pelan investor memilih menyimpan duit tunainya dalam bentuk dolar AS.

Kelima, kebijakan suku bunga tinggi oleh bank sentral AS (the Federal Reserve/Fed) yang belum di ketahui kapan berakhir membuat investor memasang posisi terhadap dolar AS. Ada yang mengatakan, Fed akan menaikkan suku bunga hingga 5% atau bahkan 6% dalam waktu dekat, atau tahun depan.

Kenaikan suku bunga membuat asset dalam bentuk dolar AS semakin menarik, plus ditambah statusnya sebagai safe-haven assets membuatnya diburu oleh investor seluruh dunia.

 

Sumber

Baca juga: Ini Alasan yang Buat Bitcoin Bisa Kalahkan Emas

Tags: