The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Masih Menguat

Rupiah sukses mencatat penguatan 2 hari beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS) Rabu kemarin. Bahkan sempat ke bawah Rp 14.300/US$, sebelum mengakhiri perdagangan di Rp 14.310/US$ atau menguat 0,1%. Penguatan rupiah berpeluang berlanjut pada perdagangan Kamis (17/3) meski bank sentral AS (The Fed) sudah menaikkan suku bunga dan akan terus melakukannya di setiap pertemuan tahun ini.

Dalam pengumuman kebijakan moneter dini hari tadi, The Fed memutuskan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,25% – 0,5%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Bank sentral paling powerful di dunia ini juga mengindikasikan di akhir tahun nanti suku bunga akan berada di kisaran 1,75% – 2%, artinya akan ada kenaikan suku bunga 6 kali lagi guna meredam kenaikan inflasi.

Meski The Fed begitu agresif, indeks dolar AS nyatanya malah jeblok 0,7%, yang bisa memberikan ruang penguatan rupiah hari ini.

Selain itu, pelaku pasar saat ini menanti pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) mulai pukul 14:00 WIB.

“Suku bunga masih tetap bertahan pada level 3,5% seiring dengan tekanan inflasi yang masih terjaga dalam kisaran yang ditargetkan BI serta kurs rupiah yang tetap relatif stabil meskipun sentiment negative dari global mulai meningkat,” tutur ekonom BNI Sekuritas Damhuri Nasution, kepada CNBC Indonesia.

Pelaku pasar akan melihat apakah BI berpeluang menaikkan suku bunga di tahun ini, melihat The Fed yang sangat agresif. Sementara BI sebelumnya memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak 4 kali di tahun ini.

Baca juga: Kenaikan Suku Bunga Menakutkan Bagi Investor, Kenapa ya?

Secara teknikal, penguatan rupiah yang disimbolkan USD/IDR dalam 2 hari sukses membuatnya kembali ke bawah pergerakan 100 hari (Moving Average 100). Artinya rupiah kini bergerak di bawah MA 50, 100 dan 200 yang membuka peluang penguatan lebih lanjut.

Indikator Stochastic pada grafik harian kini berada di kisaran 40.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Stochastic pada grafik 1 jam bergerak turun tetapi belum mencapai wilayah jenuh jual, sehingga ruang penguatan rupiah masih terbuka.

Selain itu, pada grafik 1 jam terlihat rupiah sudah menutup celah (gap) yang dibuat pada Kamis (10/3) lalu, hal ini bisa menjadi tenaga tambahan untuk menguat.

Rupiah kini berada di support Rp 14.300/US$ hingga Rp 14.280/US$ yang sebenarnya sudah disentuh kemarin.

Penembusan ke bawah level tersebut akan membuka ruang penguatan menuju Rp 14.250/US$.

Sebaliknya selama tertahan di atas support, rupiah berisiko melemah ke Rp 14.360/US$ hingga Rp 14.370/US$. Jika level tersebut ditembus, rupiah berisiko melemah ke Rp 14.400/US$ sebelum menuju Rp 14.430/US$.

 

 

Sumber

Baca juga: Di Balik Penguatan Rupiah, Ada Luhut dan Putin!

Tags: