Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah tipis 0,04% ke 6.655,999 pada perdagangan Selasa, dan libur kemarin.

Meski melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)masih sangat dekat dengan rekor tertinggi sepanjang masa masa 6.693,466. Dari level saat ini ke rekor tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya kurang 0,56% saja dan berpeluang dipecahkan hari ini, Kamis (21/10).

Saat IHSG melemah investor asing tetap melakukan aksi beli bersih senilai Rp 654,14 miliar di pasar reguler. Sementara di awal pekan ini, net buy tercatat nyaris Rp 1 triliun, dan sepanjang pekan lalu Rp 5,15 triliun.

Tren tersebut berpotensi berlanjut hari ini melihat sentimen pelaku pasar yang masih bagus terlihat dari menghijaunya bursa saham Eropa dan Amerika Serikat (Wall Street) Rabu kemarin. Indeks Dow Jones bahkan memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa, yang tentunya menjadi motivasi bagi IHSG untuk melakukan hal yang sama.

Secara teknikal, IHSG akhirnya terkoreksi tipis setelah reli 5 hari beruntun. Outlook IHSG masih bullish setelah menembus 6.500 yang sebelumnya menjadi tembok tebal.

Sepanjang tahun ini, IHSG sudah 3 kali menguji level tersebut, tetapi selalu gagal mengakhiri perdagangan di atasnya. Baru pada Rabu (13/10) IHSG sukses mengakhiri perdagangan di atasnya yang membuatnya terus menanjak.

Baca juga: Mengenal Istilah Bandarmology di Pasar Saham Indonesia

Pada perdagangan Jumat lalu, IHSG mencatat penguatan tipis, sehingga belum ada perubahan level-level yang harus diperhatikan.

Indikator Stochastic pada grafik harian kini berada di wilayah jenuh beli (overbought) yang berisiko memicu koreksi. Pada grafik harian bahkan sudah overbought dalam waktu yang lama. Artinya sangat jenuh beli.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Sementara jika melihat grafik 1 jam stochastic sudah keluar dari wilayah jenuh beli, tetapi IHSG juga keluar dari pola bullish Channel, artinya ada risiko koreksi lebih lanjut jika gagal kembali ke masuk ke dalam pola tersebut.

Koreksi IHSG terjadi setelah muncul pola Dragonfly Doji.

Source: CNBC Indonesia

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Sementara jika melihat grafik 1 jam stochastic sudah keluar dari wilayah jenuh beli, tetapi IHSG juga keluar dari pola bullish Channel, artinya ada risiko koreksi lebih lanjut jika gagal kembali ke masuk ke dalam pola tersebut.

Koreksi IHSG terjadi setelah muncul pola Dragonfly Doji.

Source: CNBC Indonesia

IHSG masih berada di atas support 6.630 hingga 6.640. Jika kembali ke bawahnya, IHSG berisiko terkoreksi ke 6.600. Support selanjutnya berada di 6.540.

Sementara selama bertahan di atas 6.640, IHSG berpeluang naik lagi dan masuk ke dalam pola Bullish Channel. Untuk melanjutkan penguatan dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa dan ke 6.700, IHSG perlu melewati 6.685 yang merupakan ekor (tail) dari pola Dragonfly Doji.

Sumber

Baca juga: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Ditutup Menguat Hari Ini

Tags: