PTBA menyatakan bahwa proyek gasifikasi dari batubara dapat mengurangi impor LPG secara signifikan. Hal ini dikatakan oleh Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

PTBA Menyatakan Proyek Gasifikasi Mengurangi Impor

Proyek gasifikasi batubara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih terus bergulir. Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengatakan bahwa pabrik ini ditargetkan mulai berproduksi komersial pada tahun 2025. Produksi ini bertujuan memenuhi konsumsi batubara sekitar 6 juta ton per tahun yang akan disuplai oleh PTBA. Pabrik ini akan menghasilkan 1,4 juta ton dymethil ether (DME) per tahunnya.

Adapun PTBA telah memutuskan untuk membangun pabrik gasifikasi ini di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Salah satu pertimbangannya adalah, Tanjung Enim dinilai lebih efisien dari sisi infrastruktur dan kalori batubara yang tersedia. Arviyan menyatakan, dengan adanya pabrik di Tanjung Enim, belanja modal dan biaya operasional menjadi jauh lebih hemat.

Sebelumnya, PTBA juga mempertimbangkan Riau, sebagai lokasi gasifikasi ini. Hadirnya pabrik gasifikasi ini, dikatakan akan mengurangi ketergantungan impor liquefied petroleum gas (LPG) yang selama ini membebani neraca perdagangan Indonesia. Hal ini disebabkan DME yang dihasilkan Bukit Asam akan bertindak sebagai pengganti LPG. LPG sendiri sampai saat ini diketahui mengisi 70% industri dan rumah tangga domestik sebagai bahan bakar.

Proyek Gasifikasi Sangat Menguntungkan

Oleh karena itu, keberlanjutan proyek ini dinilai tidak terlalu terdampak potensi resesi ekonomi yang melanda Indonesia. Hal ini disebabkan asumsi, walau dalam keadaan resesi, kebutuhan energi masih akan terus ada, bahkan naik. Menurut Arviyan, untuk aspek ekonomi, DME nantinya tidak akan lebih mahal dari LPG yang ada di pasar. Hal ini disebabkan tidak ada komponen biaya impor dan komponen dolar AS.

Baca juga: Bank BCA Dalam Proses Akuisisi Bank Interim! Memperluas Pasar Syariah

Proyek dengan nilai investasi $2,4 Milyar ini akan memakan waktu konstruksi antara 3,5 tahun sampai 4 tahun. Selain bertindak sebagai penyedia batubara, Bukit Asam juga bertindak sebagai pembantu dalam hal perizinan dan juga administrasi. Sementara proyek tersebut sepenuhnya akan dibiayai dan dibangun oleh Air Product, dengan PT Pertamina (Persero) bertindak sebagai offtaker produk.

Sehingga, kedepannya, proyek ini akan sangat menguntungkan tidak hanya bagi PTBA namun bagi negara secara menyeluruh. Oleh karena itu, ada kemungkinan saat proyek ini berhasil, sentimen positif menjadi tercipta. Sehingga, saham PTBA yang saat ini sedang tertekan, berpotensi terangkat dan kembali ke masa apresiasinya.

Dilansir dari Kontan

Tags: