KLBF dikabarkan telah mulai menyiapkan modal baru sejumlah Rp 1 Triliun yang dikabarkan akan mulai digunakan untuk tahun 2021. Banyak pihak yang bertanya untuk apa modal ini digunakan dan apakah dampak ke depannya untuk kinerja Kalbe Farma.

KLBF Siapkan Modal Rp 1 Triliun

Demi mendongkrak kinerjanya hingga tiga tahun ke depan, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyatakan akan menggunakan belanja modal sebesar Rp1 triliun. Jika dilihat dari jangka watu penggunaannya, angka ini tergolong relatif kecil dibandingkan modal yang telah dikeluarkan sebelumnya.

Menurut Direktur Keuangan KLBF, Bernadus Karmin Winata, perusahaan akan mempertahankan belanja modal sebesar Rp1 triliun dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini disebabkan belanja modal yang cukup besar di atas Rp1,5 triliun telah dilakukan pada tahun 2019.

Tahun 2019 tersebut merupakan puncak dari belanja modal terbesar perusahaan sehingga ke depannya akan mulai dilakukan efisiensi modal. Oleh karena itu, perusahaan menyatakan bahwa sampai dengan tiga tahun mendatang, perusahaan tidak punya belanja modal yang sebesar tahun 2019.

Di sisi lain, Bernadus juga mengatakan sensitivitas kurs memang berdampak signifikan terhadap kinerja operasional perseroan. Dampak ini dirasakan terutama pada beban pokok penjualan atau cost of goods sold yang mempengaruhi keuntungan.

Pertimbangan terhadap kurs ini dilakukan akibat komposisi bahan baku perseroan banyak diimpor dari luar negeri. Sehingga, pergerakan kurs akan berdampak kepada margin perseroan yang berpengaruh kembali pada keuntungan bersih.

Kondisi Saham Perusahaan

Saham KLBF nampaknya sudah mulai kehilangan sentimen dari vaksin yang dikabarkan akan dapat digunakan pada tahun 2021. Hal ini disebabkan belum pastinya vaksin tersebut dan juga banyaknya berita negatif mengenai vaksin tersebut.

Pada pekan ini, dengan adanya kabar kemungkinan PSBB, kondisi akhir tahun yang kemungkinan akan mengangkat angka covid-19, dan juga beberapa sentimen negatif lainnya, KLBF terlihat turun.

Baca juga: BBRI Gandeng Alipay! Pertama di Indonesia

Pada pekan ini sendiri saham KLBF telah turun sekitar 5% sejak pembukaan perdagangan Hari Senin. Depresiasi ini bukan sebuah kejutan akibat sebelumnya saham KLBF memang mengalami pergerakan turun sejak Oktober 2020.

Namun pergerakan turun ini masih memiliki potensi naik akibat setelah Oktober bergerak turun, Desember mengangkat kembali harga KLBF, walau kembali turun. Namun pergerakan konsolidasi tersebut memberikan harapan untuk 2021.

Hal ini disebabkan masih adanya kemungkinan untuk saham naik kembali bersama harapan baru di 2021. Mengingat kondisi perusahaan yang juga masih positif, kemungkinan besar apresiasi tersebut masih dapat terjadi.

Tags: