PT Gudang Garam Tbk (GGRM) kembali setor modal kepada anak usaha perseroan PT Surya Dhoho Investama (SDHI) sebesar Rp 2 triliun untuk mendukung pembangunan bandara di Kediri, Jawa Timur.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Gudang Garam Tbk mengambil alih saham-saham baru yang dikeluarkan oleh SDHI sejumlah 2 juta saham dengan penyetoran tambahan modal oleh perseroan sebesar Rp 2 triliun. Dengan demikian, modal ditempatkan dan modal disetor SDHI menjadi Rp 10 triliun dari sebelumnya Rp 8 triliun.

Kepemilikan oleh perseroan seluruhnya sebanyak 9.999.999 saham atau sebesar Rp 9,99 triliun dan kepemilikan PT Surya Duta Investama sebanyak satu saham atau sebesar Rp 1 juta. Modal dasar SDHI juga ditingkatkan dari semula Rp 9 triliun menjadi Rp 10 triliun. Hal itu telah disetujui dalam keputusan di luar Rapat Umum Pemegang Saham SDHI pada 31 Oktober 2022.

Perseroan menyatakan penambahan modal dan pengambilan saham baru SDHI oleh perseroan termasuk salah satu transaksi afiliasi yang hanya wajib dilaporkan oleh perseroan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam ketentuan pasal 6 ayat 2 POJK 42.

Baca juga: Inflasi Indonesia Melandai, Rupiah Terdepresiasi?

Selanjutnya Perseroan menyatakan, penyetoran tambahan modal ditempatkan dan modal disetor tersebut akan dilakukan secara bertahap yang dimulai dengan penyetoran awal sebesar Rp 200 miliar pada 10 November 2022, dan sisanya disetor secara bertahap sampai seluruhnya disetor paling lambat akhir Maret 2023.

“Transaksi afiliasi bertujuan meningkatkan modal SDHI tersebut, dilakukan untuk mendukung kelanjutan proses pembangunan bandar udara terpadu di Kediri, Jawa Timur yang dibangun oleh perseroan melalui SDHI,” tulis perseroan.

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) tegaskan tak ada keterkaitan nasib industri rokok dengan proyek pembangunan Bandara Dhoho, Kediri, Jawa Timur.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Gudang Garam, Heru Budiman menegaskan, pembangunan bandara di Kediri ini tidak ada kaitannya dengan exit strategi perseroan dari industri rokok.

Heru mengakui adanya penurunan kinerja, utamanya sejak pandemi covid-19. Bersamaan dengan itu, pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau hingga 23 persen pada 2020, sehingga kinerja perseroan tergerus signifikan. Kendati begitu, ia menjelaskan bahwa pembangunan bandara ini telah diinisiasi bahkan sebelum pandemi covid-19.

 

 

Sumber

Baca juga: The Fed akan Kerek Suku Bunga Lagi, Rupiah Berpotensi Menguat?