Laba Garuda Indonesia naik atau turun? Yuk simak di bawah~!

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengumumkan kinerja perseroan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2022. Pada periode ini, perseroan berhasil mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD 3,7 miliar atau sekitar Rp 58,08 triliun (kurs Rp 15.699 per USD).

Raihan laba itu berbalik dari posisi September tahun lalu di mana Garuda Indonesia mencatatkan rugi USD 1,65 miliar. Mengutip laporan keuangan perseroan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (3/11/2022), kinerja laba perseroan sejalan dengan pendapatan usaha yang tumbuh 60,35 persen menjadi USD 1,51 miliar dari Rp 939,03 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Kendati demikian, perseroan berhasil menekan beban usaha menjadi sebesar USD 1,86 miliar dari USD 1,98 miliar pada September 2021. Bersamaan dengan itu, perseroan mencatatkan keuntungan selisih kurs senilai USD 103,65 juta, pendapatan lain-lain USD 279,16 juta, dan pendapatan dari restrukturisasi utang sebesar USD 2,85 miliar.

Kemudian perseroan juga mencatatkan keuntungan dari restrukturisasi pembayaran sebesar USD 1,34 miliar, pendapatan keuangan USD 4,59 juta, dan beban keuangan USD 308,39 juta. Dari rincian itu, setelah dikurangi pajak perseroan berhasil mengantongi laba periode berjalan sebesar USD 3,7 miliar dari rugi tahun berjalan pada September 2021 sebesar USD 1,67 miliar.

Dari sisi aset perseroan sampai dengan September 2022 tercatat sebesar USD 5,89 miliar, turun dibandingkan posisi Desember 2021 sebesar USD 7,19 miliar. Terdiri dari aset lancar USD 462,12 juta dan aset tidak lancar USD 5,42 miliar.

Liabilitas sampai dengan September 2022 tercatat sebesar USD 8,29 miliar, turun dari posisi akhir tahun lalu sebesar USD 13,3 miliar.

Baca juga: Garuda Indonesia Tunda Right Issue, Berikut Alasannya!

Terdiri dari liabil itas jangka pendek USD 2,23 miliar dan liabilitas jangka panjang USD 6,06 miliar. Sementara ekuitas sampai dengan September 2022 tercatat membaik jadi minus USD 2,41 miliar dari minus USD 6,11 miliar pada Desember 2021.

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengumumkan berakhirnya kasus hukum terkait penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dan pengesahan perjanjian perdamaian (homologasi).

Direktur Utama Garuda Indonesia Tbk, Irfan Setiaputra menerangkan, Majelis Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengesahkan perjanjian perdamaian antara PT Garuda Indonesia Tbk dengan para krediturnya melalui Putusan (Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 425/Pdt.sus-PKPU/2021/PN.Niaga.Jkt.Pst tanggal 27 Juni 2022).

Putusan itu dikatakan oleh Mahkamah Agung RI dalam Putusan Mahkamah Agung No.1454K.Pdt.Sus-Pailit/2022 tanggal 26 September 2022 atau putusan homologasi.

Putusan MA itu pertama, menyatakan sah dan mengikat secara hukum Perjanjian Perdamaian tertanggal 17 Juni 2022 antara perseroan dengan krediturnya. Kedua, menyatakan PKPU No. 425/Pdt.sus-PKPU/2021/PN.Niaga.Jkt.Pst  demi hukum berakhir.

“Dengan putusan homologasi telah memperoleh kekuatan hukum tetap melalui putusan Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud, maka PKPU perseroan telah berakhir,” kata Irfan, dikutip dari Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (26/10/2022).

 

 

Sumber

Baca juga: Simak Kisah Garuda Indonesia Dalam Menyelamatkan Turbulensi Keuangan