Risalah the Fed bikin rupiah melemah

Kurs rupiah sempat melibas dolar Amerika Serikat (AS) sebelum akhirnya terkoreksi pada pertengahan perdagangan Kamis (05/01/2023). Bahkan, rupiah menjadi mata uang di Asia yang terkoreksi paling tajam.

Mengacu pada data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan rupiah terapresiasi 0,1% ke Rp 15.570/US$. Sayangnya, rupiah kembali terkoreksi sebesar 0,19% ke Rp 15.615/US$ pada pukul 11:00 WIB.

Pada Kamis dini hari waktu Indonesia, bank sentral AS atau Federal Reserve merilis risalah pertemuan pada pertemuan Desember 2022, yang mengindikasikan bahwa mereka masih akan menaikkan suku bunga acuannya lebih tinggi guna meredam angka inflasi yang masih tinggi.

“Peserta umumnya mengamati bahwa sikap kebijakan yang membatasi perlu dipertahankan sampai data yang masuk memberikan keyakinan bahwa inflasi berada pada jalur penurunan yang berkelanjutan hingga 2%, yang kemungkinan akan memakan waktu lama,” ringkasan pertemuan tersebut menyatakan sebagaimana dimuat CNBC International.

Baca juga: Inflasi Turki Tunjukkan Penurunan Drastis!

Sejatinya, para pelaku pasar telah memprediksikan hal yang serupa. Melansir konsensus pasar dari CME Group, pada pertemuan Februari 2023, sebanyak 68,3% analis memprediksikan bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps dan akan mengirim tingkat suku bunga menjadi 4,5%-4,75%.

Kembali agresifnya The Fed tentu akan menekan mata uang di emerging market. Adapun hal tersebut telah diutarakan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Perry menyampaikan bahwa kebijakan The Fed akan tetap agresif untuk jangka waktu yang lama. Adapun, efeknya, ini akan menyebabkan dolar AS masih dalam tren menguat. Artinya, potensi pelemahan rupiah terbuka.

Meski demikian, akhir pertengahan Desember lalu, Perry telah menegaskan bank sentral tidak akan lagi berlebihan dalam menaikkan suku bunga acuan. Alasan bank sentral untuk tidak lagi agresif menaikkan suku bunga acuan karena inflasi di tanah air ke depan diperkirakan akan melandai alias menurun.

Setelahnya, indeks dolar AS bergerak melemah 0,07% ke posisi 104,17 pada pukul 11:00 WIB. Kendati begitu, mayoritas mata uang di Asia masih tertekan.

Hanya baht Thailand, yen Jepang dan yuan China yang sukses menguat masing-masing sebesar 0,29%, 0,22%, dan 0,04% di hadapan dolar AS.

 

 

 

Sumber

Baca juga: Dolar Singapura Sentuh Rekor Termahal saat Ekonomi Negara Jeblok