Poundsterling anjlok, saatnya jual?

Perekonomian Inggris sedang terpuruk hingga terancam mengalami resesi yang panjang. Bahkan ada yang memprediksi Inggris akan “menghilang 10 tahun” atau mengalami lost decade.

Nilai tukar poundsterling jeblok melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah US$ 1,0382/GBP pada 26 September lalu.

Setelahnya poundsterling perlahan bangkit, dan Jumat (23/12/2022) mengakhiri perdagangan di US$ 1,2058/GBP. Sepanjang tahun ini hingga ke level tersebut, pelemahan poundsterling tercatat sekitar 10%.

Dengan Inggris yang diprediksi mengalami lost decade, poundsterling tentunya berisiko tertekan lagi di tahun depan. Namun, bank investasi papan atas, Morgan Stanley justru memberikan pendapatan yang berbeda.

“Kami pikir skenario bullish untuk Inggris (dan mata uangnya) akan menjadi kejutan di 2023,” tulis Morgan Stanley, sebagaimana dilansir poounsterlinglive.com.

Sejak menyentuh rekor terendah sepanjang masa hingga Jumat pekan lalu, poundsterling tercatat rebound hingga lebih dari 16%, padahal belum ada perubahan fundamental yang menjanjikan dari dalam negeri Inggris.

Baca juga: Kurs Poundsterling Turun, BoE Terpaksa Tambah Pembelian Gilt

Analis dari Morgan Stanley dalam “Top 10 Surprises for 2023”, mengatakan poundsterling akan menjadi salah satu aset dengan kinerja terbaik di 2023.

Bearish outlook untuk Inggris hampir sama dengan pandangan konsensus, meski begitu poundsterling masih mampu mencatat penguatan impresif beberapa pekan terakhir,” kata Wanting Low, FX strategist di Morgan Stanley.

Sebelumnya di awal bulan ini, Confederation of British Industri (CBI) memperingatkan Inggris bisa mengalami lost decade. Jepang pernah mengalaminya, di mana pertumbuhan ekonominya sangat rendah hingga negatif pada periode 1991 – 2000.

“Inggris dalam stagflasi – dengan inflasi yang sangat tinggi, pertumbuhan ekonomi negatif, penurunan produktivitas dan investasi bisnis,” kata Tony Danker, Direktur Jenderal CBI sebagaimana dilansir CNN Business, Rabu (5/12/2022).

CBI menyatakan Inggris kini mengalami kekurangan tenaga kerja terampil. Sebanyak tiga perempat perusahaan dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang mereka butuhkan.

“Kita akan melihat dasawarsa yang hilang jika tidak ada langkah yang diambil. Produk domestik bruto (PDB) adalah pengganda sederhana dari dua faktor: manusia dan produktivitas mereka. Kita tidak memiliki sumber daya manusia yang kita perlukan, begitu juga dengan produktivitasnya,” tambah Danker.

CBI memprediksi PDB Inggris akan minus 0,4% pada tahun depan, berbanding terbalik dengan proyeksi yang diberikan Juni lalu yakni tumbuh 1%.

 

 

 

Sumber

Baca juga: Apa itu Stagflasi dan Bagaimana Pengaruhnya pada Kripto?

Tags: