Nilai tukar rupiah kembali menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (12/1/2023), melanjutkan kinerja impresif Rabu kemarin. Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,19% ke Rp 15.450/US$. Penguatan bertambah menjadi 0,32% ke Rp 15.430/US$ pada pukul 9:03 WIB. Level tersebut merupakan yang terkuat sejak dalam satu bulan terakhir.

Perhatian tertuju ke rilis data inflasi Amerika Serikat malam nanti. Data ini bisa menentukan nasib rupiah dalam beberapa hari atau pekan ke depan, sebab menjadi sinyal The Fed akan tetap agresif menaikkan suku bunga, atau dikendurkan lagi.

“Investor menanti rilis data inflasi AS bulan Desember untuk mengkonfirmasi adanya tren penurunan. Proyeksi inflasi yang menurun juga meredakan tekanan di pasar uang,” tulis kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro.

Hasil polling Reuters menunjukkan inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) bulan Desember 2022 diperkirakan sebesar 6,5% year-on-year (yoy), jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya 7,1% (yoy).

Jika data tersebut dirilis sesuai prediksi, tentunya akan menjadi kabar baik, peluang The Fed mengendurkan laju kenaikan suku bunganya akan semakin besar. Tetapi, jika inflasi hanya turun tipis, atau stagnan bahkan mengalami kenaikan, maka tentunya akan menjadi bencana.

Sektor finansial tentunya menjadi yang pertama terkena bencana, kemudian merambat ke sektor rill yang membawa perekonomian dunia memasuki resesi lebih dalam.

Baca juga: Kebijakan Devisa RI Diubah, Simak di bawah ini!

Sementara itu ada kaba baik dari dalam negeri yang membuat rupiah menguat tajam Rabu kemarin.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2019 tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE). Beberapa sektor baru masuk ke dalam daftar yang harus menempatkan DHE kepada regulator.

Hal ini disampaikan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sesuai arahan Presiden Jokowi dalam rapat kabinet terbatas di Istana Kepresidenan, Rabu (11/1/2023).

“Tadi juga arahan pak Presiden, ekspor yang selama ini positif itu perlu diikuti dengan peningkatan cadangan devisa. Untuk itu pak Presiden meminta PP 1 Tahun 2019 DHE itu untuk diperbaiki,” ungkapnya.

Seperti diketahui isu keringnya pasokan dolar AS di dalam negeri membuat rupiah sulit menguat.

Selain itu, investor asing mulai masuk lagi ke pasar obligasi sekunder. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko (DJPPR), pada 1 – 10 Januari terjadi capital inflow hingga Rp 12 triliun.

Obligasi Indonesia yang kembali menarik bagi investor asing memberikan tenaga bagi rupiah untuk menguat.

 

 

 

Sumber

Baca juga: 105 Negara di Dunia Sedang Menjajaki CBDC, Simak di sini!

Tags: