Mata uang Asia mayoritas bergerak melemah pada hari Senin (21/11). Yuan melemah karena China mencatat rekor lonjakan kasus harian COVID. Sementara dolar mendapat dorongan dari permintaan safe haven di tengah kekhawatiran potensi eskalasi dalam konflik Rusia-Ukraina.

Yuan turun 0,6% ke level terendah 10 hari, sedangkan yuan offshore melemah 0,7% tatkala beberapa kota di China mencatat rekor lonjakan kasus baru COVID-19. Tetapi pelemahan dalam mata uang ini agak berkurang setelah People’s Bank of China menahan suku bunga pinjaman utamanya.

Meningkatnya infeksi COVID membuat diberlakukannya lockdown baru di beberapa pusat keuangan, termasuk ibu kota Beijing dan pusat ekonomi Shanghai. Langkah-langkah baru tersebut mendorong kekhawatiran yang meluas bahwa pertumbuhan ekonomi negara tersebut sekali lagi akan melambat setelah pemulihan singkat pada Q3.

Data yang dirilis minggu lalu menunjukkan ekonomi terbesar kedua di dunia ini sudah mengalami kesulitan pada bulan Oktober. Ini menandakan lebih banyak kelemahan dalam beberapa bulan mendatang karena langkah-langkah anti-COVID semakin intensif. Hal ini juga sebagian besar mengimbangi optimisme atas potensi pengurangan kembali kebijakan nol-COVID China yang ketat. Hal itu merupakan inti dari kesengsaraan ekonomi negara itu tahun ini.

Kekhawatiran atas China menerpa mata uang negara-negara lain dengan eksposur perdagangan yang besar ke Beijing. Won Korea Selatan jatuh 1%, sementara dolar Australia turun 0,3%.

Baca juga: Rupiah Melemah 6 Hari Beruntun, Gimana Nasib Kelanjutannya?

Dolar AS diuntungkan dari permintaan safe haven baru di tengah kekhawatiran perlambatan China. Indeks dolar dan dolar berjangka keduanya masing-masing naik sekitar 0,3%, menembus level 107 dan mencapai level tertinggi 10 hari.

Potensi krisis nuklir dalam konflik Rusia-Ukraina, di tengah penembakan besar-besaran terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia Ukraina, juga mendorong arus safe haven ke dalam dolar.

Prospek dolar juga bertambah oleh sinyal hawkish dari petinggi Federal Reserve pekan lalu.

Mata uang Asia lainnya juga mundur karena memburuk sentimen, di mana pasar khawatir bahwa kenaikan suku bunga AS lanjutan dapat memicu resesi.

Rupee India turun 0,3%, mengambil sedikit dukungan dari melemahnya harga minyak, sementara baht Thailand melemah 0,5%.

Ringgit Malaysia turun 0,4% saat negara itutersebut menghadapi parlemen yang digantung untuk pertama kalinya dalam sejarah, setelah melaksanakan pemilihan umum yang berlangsung ketat. Tetapi mantan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengatakan pada hari Minggu bahwa ia mendapatkan cukup kursi untuk membentuk pemerintahan.

Mata uang lainnya pukul 09.25 WIB, USD/JPY turun 0,01%, GBP/JPY turun 0,26%, GBPUSD turun 0,29%, EURUSD turun 0,22%, dan di Indonesia, rupiah turun 0,06% di 15.695,0 per dolar AS pukul 09.07 WIB. Kripto pagi ini bitcoin turun 4,16% pukul 09.18 WIB BTC/USD dan ethereum turun 8,29% (ETH/USD). Sementara, ETC/USD turun 9,26%.

 

 

 

Sumber

Baca juga: Bursa Saham Asia Melemah Jelang Rilis Data Ekonomi China