Nilai tukar rupiah terdepresiasi di hadapan dolar AS hingga pada pertengahan perdagangan Selasa (01/11/2022), setelah rilis data inflasi Indonesia per Oktober 2022 yang melandai dibanding bulan sebelumnya.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah terkoreksi pada pembukaan perdagangan sebesar 0,16% ke Rp 15.620/US$. Kemudian, rupiah melanjutkan pelemahannya sebesar 0,35% ke Rp 15.650/US$ pada pukul 11:10 WIB.

Hari ini, S&P Global telah merilis PMI Manufaktur Indonesia per Oktober 2022. Turun menjadi 51,8 dari posisi pada bulan sebelumnya di 53,7. Meski melandai, tapi PMI Manufaktur masih ekspansif karena berada di atas batas acuan di 50, sedangkan di bawahnya menunjukkan kontraksi.

Pertumbuhan permintaan keseluruhan yang berkelanjutan di sektor manufaktur Indonesia mendorong peningkatan produksi manufaktur di Oktober. Tingkat pertumbuhan pesanan baru dan output menurun dari bulan sebelumnya tapi tetap solid.

Di sisi lain, permintaan asing untuk barang-barang manufaktur Indonesia turun. Tampaknya disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang lebih lemah.

Baca juga: The Fed akan Kerek Suku Bunga Lagi, Rupiah Berpotensi Menguat?

Tingkat kepercayaan pelaku bisnis menguat ke level tertinggi selama tujuh bulan, terkait dengan harapan bahwa penjualan akan membaik dengan kondisi ekonomi yang lebih baik ke depannya.

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga merilis data inflasi Oktober 2022 yang berada di 5,71% secara tahunan. Melandai ketimbang bulan sebelumnya di 5,95%. Posisi tersebut lebih rendah dari konsensus analis yang dihimpun CNBC Indonesia terhadap 12 institusi yakni di 5,95%.

Adapun inflasi bulanan Oktober jauh lebih kecil dibandingkan yang tercatat pada September yakni 1,17% (mtm).

Diketahui ada beberapa kali penyesuaian harga energi pada beberapa waktu terakhir. Antara lain kenaikan Pertamax, Pertalite dan Solar pada awal September 2022. Kemudian 1 Oktober 2022, harga Pertamax diturunkan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa (Disjas) BPS, Setianto mengatakan bahwa penyumbang inflasi tertinggi masih dipicu oleh bensin, tarif angkutan dalam kota, solar dan tarif antara kota dan rumah tangga.

Sementara itu, para pelaku pasar global masih menantikan rilis keputusan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) terkait keputusan kenaikan suku bunga acuannya pada 3 November dini hari waktu Indonesia.

 

 

Sumber

Baca juga: VIX Volatility Index Memprediksi Depresiasi Harga Bitcoin