Laju kenaikan dolar Singapura hari ini melawan rupiah masih belum terbendung. Bahkan kini semakin dekat dengan rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Pada perdagangan Rabu (16/11/2022) pukul 12:27 WIB, dolar Singapura menyentuh Rp 11.400/SG$, menguat 0,64% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam dua setengah tahun terakhir. Sementara rekor termahal sepanjang sejarah Rp 11.574/SG$ yang dicapai pada 2 April 2020 lalu.

Dolar Singapura terus menanjak semenjak Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) kembali mengetatkan kebijakannya pertengahan bulan lalu.

MAS mengubah titik tengah (centre)Singapore dollar nominal effective exchange rate(S$NEER). Sementara untuk slope dan width tidak dirubah.

Untuk diketahui, di Singapura, tidak ada suku bunga acuan, kebijakannya menggunakan S$NEER, yang terdiri dari kemiringan (slope), lebar (width) dan titik tengah (centre).

Kebijakan moneter, apakah itu longgar atau ketat, dilakukan dengan cara menetapkan kisaran nilai dan nilai tengah dolar Singapura terhadap mata uang negara mitra dagang utama. Kisaran maupun nilai tengah itu tidak diumbar kepada publik.

Baca juga: The Fed Naikkan Bunga 100 Bps, Harga Minyak Turun

Sejak akhir tahun lalu, MAS sudah 5 kali mengetatkan kebijakannya.

Tren kenaikan tajam dolar Singapura dimulai sejak 26 September lalu. Sejak saat itu mata uang Negeri Merlion ini sudah melesat sekitar 8,5%.

Dari dalam negeri, pasar menanti pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Kamis besok. Hasil polling Reuters menunjukkan BI akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia juga memproyeksikan hal yang sama.

Dari 14 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus tersebut, delapan lembaga/institusi memperkirakan bank sentral akan mengerek BI7DRR sebesar 50 basis points (bps) menjadi 5,25%.

Sementara itu, enam lembaga/institusi memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,00%.

Sebagai catatan, BI sudah mengerek suku bunga acuan sebesar 125 bps hanya dalam waktu tiga bulan, masing-masing sebesar 25 bps pada Agustus, 50 bps pada September, dan 50 bps pada Oktober.

 

 

 

Sumber

Baca juga: Bursa Saham Asia Hari Ini Melemah, Simak Kabarnya Berikut