Bank sentral Filipina memberi isyarat pada hari Kamis (3/11/2022) bahwa pihaknya merencanakan kenaikan suku bunga utama sebesar 75 basis points (bps) pada pertemuan kebijakan akhir bulan ini.

Langkah ini dimaksud untuk menyamai pengetatan moneter terbaru oleh Federal Reserve AS.

“(Kenaikan The Fed) mendukung sikap BSP untuk menaikkan suku bunga dengan jumlah yang sama pada pertemuan kebijakan berikutnya pada 17 November,” kata Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) Felipe Medalla dalam pesan singkat yang dibagikan kepada jurnalis.

“BSP menganggap perlu untuk mempertahankan perbedaan suku bunga yang berlaku sebelum kenaikan suku bunga Fed terbaru, sejalan dengan mandat stabilitas harga dan kebutuhan untuk meredam dampak pada nilai tukar negara dari kenaikan suku bunga Fed terbaru,” katanya, dikutip dari Reuters.

Dengan mencocokkan kenaikan suku bunga Fed, Medalla mengatakan BSP menegaskan kembali komitmen kuatnya untuk menjaga stabilitas harga dengan secara agresif menghadapi tekanan inflasi yang berasal dari faktor lokal dan global.

Dia juga menegaskan kesiapan BSP untuk mengambil tindakan kebijakan yang diperlukan untuk membawa inflasi ke sasaran yang konsisten, karena dia memproyeksikan inflasi utama dapat kembali ke kisaran target 2 persen-4 persen pada paruh kedua tahun 2023 dan setahun penuh di 2024.

Baca juga: 16 Platform Perdagangan Mata Uang Kripto Resmi di Filipina

Rabu malam (3/11/2022), Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin menjadi 3,75%-4%.

Ini menandai kenaikan suku bunga keenam berturut-turut dan kenaikan 0,75% keempat berturut-turut, mendorong biaya pinjaman ke level tertinggi baru sejak 2008. Keputusan itu sejalan dengan ekspektasi pasar.

Adapun, agresifnya The Fed dalam menaikkan suku bunga bertujuan untuk mengendalikan inflasi ke target 2%, yang hingga September 2022 tetap tinggi sebesar 8,2% secara tahunan atau masih berada di kisaran level tertinggi dalam 40 tahun.

Keputusan BSP untuk mengambil langkah yang sejajar dengan The Fed membuat publik bertanya: Bagaimana sikap kebijakan Bank Indonesia menghadapi kenaikan 75 bps Fed Fund Rate?

Dalam Rapat Dewan Gubernur September 2022, Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 bps menjadi 4,25%. Ini adalah kenaikan dengan dosis 50 bps kedua dalam tahun ini.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah front loadedpre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3,0±1% pada paruh kedua 2023.

Selain itu, kenaikan ini dimaksudkan untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat.

 

 

Sumber

Baca juga: Analisis Mata Uang ASEAN Terhadap Dolar Amerika