Federal Reserve (The Fed) Rilis notula rapat kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) dan menjadi isu utama pasar finansial global Rabu kemarin. Alhasil, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), rupiah, hingga obligasi Indonesia melemah tipis-tipis. Notula The Fed tersebut dirilis Kamis (8/7/2021) dini hari tadi, yang tentunya akan berdampak pada pasar finansial Indonesia hari ini.

Maklum saja, kebijakan The Fed memberikan efek yang sangat signifikan, sehingga pelaku pasar cenderung berhati-hati.

Kemarin, IHSG melemah tipis 0,05% ke 6.044,034, setelah sempat menguat 0,34% dan turun 0,41%. Artinya, IHSG bergerak cukup volatil. Nilai transaksi pun cukup besar Rp 13,7 triliun, dengan investor asing melakukan aksi jual bersih sebesar Rp 87 miliar.

Bursa saham AS (Wall Street) menghijau pada perdagangan Kamis Rabu waktu setempat, dengan indeks S&P 500 kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. S&P 500 melanjutkan lagi tren positif setelah terhenti sehari sebelumnya.

Melansir dara Refinitiv, indeks S&P 500 pada perdagangan Rabu menguat 0,34% ke 4.358,13 yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Kemudian indeks Dow Jones menguat 0,3% ke 34.681,79, dan Nasdaq menguat tipis 0,01% nyaris stagnan di 14.665,06.

 

 

S&P 500 sehari sebelumnya menghentikan rentetan penguatan selama 7 hari beruntun, terpanjang sejak Agustus tahun lalu. Dengan penguatan di hari Rabu, artinya S&P 500 menguat dalam 8 dari 9 hari perdagangan.

Yield obligasi (Treasury) AS yang terus menurun membuat para investor kembali masuk ke pasar saham.

Raksasa teknologi kembali menjadi target investasi, saham Apple menguat 1,8% dan Amazon 0,6%. Dalam satu bulan terakhir keduanya melesat sekitar 15%.

Yield Treasury tenor 10 tahun kini berada di 1,322%, level terendah sejak pertengahan Februari. Yield yang rendah, tetapi dengan inflasi yang tinggi di AS tentunya membuat riil return menjadi negatif, yang membuat obligasi AS menjadi kurang menarik.

Apalagi dalam rilis notula rapat kebijakan moneter The Fed menunjukkan tidak akan terburu-buru melakukan tapering, yield Treasury makin menurun.

“Pergerakan yield obligasi dan saham raksasa teknologi selalu seperti itu (yield turun, saham teknologi naik) dalam beberapa waktu,” kata Jim Paulsen, kepala strategi investasi di Leuthold Group, sebagaimana dilansir CNBC International, Rabu (7/7/2021).

Sementara itu nilai tukar rupiah juga melemah tipis 0,1% ke Rp 14.480/US$. Sama dengan IHSG, rupiah juga bergerak fluktuatif antara penguatan dan pelemahan.

Dari pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) mayoritas memang mengalami penguatan, tetapi juga tipis-tipis. Hal tersebut tercermin dari penurunan yield SBN.

Tenor Yield (%) Perubahan (Poin)
 ID 1Y T-BOND3,483-8,8
 ID 3Y T-BOND4,7080,1
 ID 5Y T-BOND5,3800
 ID 10Y T-BOND6,553-3,6
 ID 15Y T-BOND6,413-0,6
 ID 20Y T-BOND7,256-1,2
 ID 25Y T-BOND7,3062
 ID 30Y T-BOND7,261-0,5

Tags: