Mata uang rupiah pada pekan ini kembali mencatatkan kinerjanya yang kurang memuaskan, di mana rupiah kembali tak kuat melawan dolar Amerika Serikat (AS).

Melansir dari Refinitiv pada pekan ini, rupiah kembali melemah 0,21% secara point-to-point ke level Rp 14.255/US$. Pada perdagangan Jumat (25/9/2021) kemarin, rupiah ditutup melemah 0,11%.

Namun jika dicermati dari pergerakannya, rupiah sebenarnya bergerak di situ-situ saja. Padahal bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) di pekan ini mengkonfirmasi pengurangan pembelian obligasi (tapering) akan segera dilakukan, yang membuat dolar AS lebih diuntungkan, tetapi rupiah masih mampu bertahan.

Rupiah yang cenderung bertahan dikarenakan pelaku pasar yang semakin banyak memburu rupiah, bahkan kini menjadi mata uang idola di Asia.

Hal tersebut tercermin dari survei 2 mingguan yang dilakukan Reuters yang menunjukkan pelaku pasar mengambil posisi beli (long) terhadap rupiah, bahkan menjadi yang terbesar diantara sembilan mata uang Asia lainnya.

Survei tersebut menggunakan skala -3 sampai 3, angka negatif berarti pelaku pasar mengambil posisi beli (long) mata uang Asia dan jual (short) dolar AS. Semakin mendekati -3 artinya posisi long yang diambil semakin besar.

Sementara positif angkanya berarti short mata uang Asia dan long dolar AS, dan semakin mendekati angka 3, semakin besar posisi short mata uang Asia.

Survei terbaru yang dirilis Kamis (23/9/2021) lalu menunjukkan angka untuk rupiah di -0,50, membesar dari dua pekan lalu -0,44.

Rupiah kini menjadi mata uang dengan posisi long terbesar di Asia, mengalahkan rupee India yang disurvei kali ini turun menjadi -0,45% dari sebelumnya -0,88%.

Survei ini konsisten dengan pergerakan rupiah, ketika pelaku pasar mengambil posisi long, maka rupiah akan cenderung menguat, begitu juga sebaliknya.

Pada awal pekan ini, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya (BI 7-Day Reverse Repo Rate) di level 3,5%.

“Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 September 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 3,5%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%,” kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam konferensi pers usai RDG, Selasa (12/9/2021).

Hal inilah yang juga menjadi dasar rupiah cenderung masih mampu bertahan, karena dengan posisi inflasi yang rendah, BI punya ruang untuk menurunkan suku bunga.

Selain itu, kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) yang sudah terkendali di Indonesia juga membuat sentimen terhadap rupiah cenderung membaik.

Pada pekan ini tak ada wilayah Jawa-Bali yang masuk Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4. Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, yang juga memperpanjang PPKM Jawa-Bali hingga 4 Oktober mendatang.

Pemerintah juga melakukan penyesuaian aktivitas masyarakat dalam ketentuan terbaru PPKM yang sifatnya lebih longgar dari sebelumnya. Salah satunya adalah uji coba pembukaan pusat perbelanjaan/mal bagi anak-anak di bawah 12 tahun.

“Akan dilakukan uji coba pembukaan pusat perbelanjaan mal bagi anak-anak di bawah usia kurang dari usia 12 tahun dengan pengawasan dan pendampingan orang tua,” ujar Luhut dalam keterangan pers, Senin (20/9/2021).

Menurut dia, kebijakan itu akan diterapkan di wilayah Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Jika berjalan lancar, pelonggaran yang dilakukan pemerintah tentunya bisa memutar roda bisnis lebih kencang.

Sumber

Baca juga: Bank Indonesia (BI) Menahan Suku Bunga Acuan di Level 3,50%

Tags: