Rupiah menguat 1,56% melawan dolar AS sepanjang pekan lalu ke Rp 15.490/US$. Penguatan mingguan tersebut menjadi yang terbesar sejak awal November 2020 lalu. Hal itu dipicu merosotnya indeks dolar AS akibat ekspektasi The Fed yang akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya. Sepanjang pekan lalu, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut merosot 4,14% ke 106,29, terendah dalam 3 bulan terakhir.

Tingkat pengangguran di Amerika Serikat yang mulai naik, serta inflasi yang menurun menjadi penyebab munculnya ekspektasi tersebut.

Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (10/11/2022) melaporkan inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) tumbuh 7,7% year-on-year (yoy). Pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya 8,2% (yoy).

Inflasi tersebut sudah mulai menurun sejak Juli lalu, semakin menjauhi rekor tertinggi 40 tahun di 9% yang dicapai pada Juni lalu.

CPI inti dilaporkan tumbuh 6,3% (yoy), turun dari Oktober 6,5% (yoy).

Sementara itu di pekan ini, ada Bank Indonesia (BI) yang menjadi perhatian utama. Hasil polling Reuters menunjukkan BI akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

Jika terealisasi, tentunya akan menjadi sentimen positif yang bisa mendongkrak penguatan rupiah pekan ini.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR terus tertekan sejak menembus ke atas moving average 50 hari (moving average 50/MA50).

Baca juga: Wall Street Menguat Usai Inflasi AS Mereda

MA 50 merupakan resisten kuat, sehingga tekanan pelemahan akan lebih besar ketika rupiah menembusnya.

Rupiah kini sudah berada di atas Rp 15.450/US$ yang merupakan Fibonacci Retracement 38,2%.

Level tersebut bisa menjadi ‘gerbang keterpurukan’ bagi rupiah, selama tertahan di atasnya. Terbukti, rupiah terus tertekan setelah menembus level tersebut.

Fibonacci Retracement tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

Kini Rp 15.450/US$ bisa menjadi kunci penguatan rupiah pekan ini. Syaratnya, mampu ditembus dan bergerak konsisten di bawahnya.

Indikator Stochastic pada grafik harian sudah cukup lama berada di wilayah jenuh beli (overbought), akhirnya turun tetapi masih jauh dari wilayah jenuh jual sehingga ruang penguatan rupiah masih cukup besar.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Target rupiah menguat ke kisaran Rp 15.300/US$ (MA 50). Penembusan ke bawah MA 50 akan membuka ruang penguatan lebih jauh.

Sementara itu, selama tertahan di atas Rp 15.450/US$, rupiah berisiko melemah kembali ke Rp 15.600/US$ – Rp 15.650/US$ di pekan ini.

 

 

 

 

Sumber

Baca juga: Yuk Intip Kinerja Keuangan Emiten Bank BUMN di Q1 2022!

Tags: