Pasar Kripto Masih Terpuruk, Simak Penjelasan Berikut

Harga kripto utama kembali berjatuhan pada perdagangan Kamis (12/5), mengikuti pergerakan pasar saham global yang juga kembali ambruk setelah perilisan inflasi Amerika Serikat (AS) April lalu.

Melansir data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, Bitcoin ambruk 5,16% ke level harga $29.253,65 (Rp424.909.266). Ethereum anjlok 10,28% ke level $2.101,08 (Rp 30.518.187).

Berikutnya BNB terjatuh 14,13% ke $272,31 (Rp 3.955.303). XRP ambruk hingga 19,56% ke $0,4112 (Rp 5.973). Cardano turun hingga 16,54% ke $0,5151 (Rp7.482). Solana tergelincir parah 24,89% ke $49,46 (Rp718.407), dan Dogecoin ambles hingga 19,48% ke $0,087 (Rp1.260). Sedangkan untuk dua stablecoin yakni USD Coin dan Binance Coin masih menguat tipis pada hari ini. Hanya stablecoin Tether yang melemah.

Sentimen pasar global masih cenderung mengarah negatif, apalagi setelah dirilisnya inflasi AS pada periode April 2022, meski inflasi tersebut sedikit melandai.

Sebelumnya, inflasi AS dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) pada bulan lalu mencapai 8,3%. lebih buruk dari ekspektasi ekonom dan analis dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 8,1%. Namun, realisasi tersebut masih lebih landai dari inflasi Maret 2022 yang tercatat sebesar 8,5%.

Sedangkan inflasi inti, yang mengecualikan harga energi dan makanan, melompat 6,2%. Lebih buruk dari ekspktasi sebesar 6%. Dalam basis bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,3% sedangkan inflasi inti sebesar 0,6%. Inflasi memang masih menjadi risiko utama ekonomi AS. Kenaikan inflasi yang mencapai level tertingginya dalam lebih dari 4 dekade terakhir diyakini berdampak ke semua elemen masyarakat.

Baca juga: LUNA Diprediksi Naik Terus Bersama Terra dan Coin Bureau

Tidak hanya masyarakat kalangan bawah saja yang menderita karena tingginya harga barang dan jasa di AS. Orang-orang kaya di AS juga ikut terdampak, terutama mereka yang memiliki portofolio saham-saham teknologi dan kripto.

Selain karena sentimen negatif dari inflasi AS, kontroversial dari dua aset kripto yang dikembangkan oleh perusahaan Singapura milik Don Kwon yakni Terra (LUNA) dan TerraUSD (UST) juga turut memperberat kinerja Bitcoin pada hari ini.

Token LUNA pun ambruk parah hingga ke kisaran 70 sen dolar AS. Padahal pada Senin awal pekan ini, harganya masih di kisaran $59 per keping. Kejatuhan token LUNA ini terkait dengan kejatuhan harga token UST yang merupakan salah satu token stablecoin.

UST adalah proyek stablecoin yang dikaitkan dengan nilai tukar dolar AS. Token ini menawarkan peyimpanan nilai yang lebih baik untuk menghindari jenis volatilitas mata uang kripto. UST dikenalkan sebagai stablecoin ‘algoritmik’. Ia menggunakan sistem pencetakan dan pembakaran token yang kompleks untuk menyesuaikan pasokan dan menstabilkan harga.

Pengembangkan menawarkan target satu koin setara US$1. Sayangnya, proyek ini tidak memiliki aset dasar. Ini membuat harganya turun di bawah target.

Pada perdagangan Rabu (11/5), harga UST sempat anjlok ke 26 sen dolar AS. Tetapi kini sudah naik kembali ke 80 sen dolar AS. Tetapi masih tetap di bawah target. Masalah ini telah menyeret jatuh harga LUNA. Do Kwon telah mengumpulkan Bitcoin senilai miliaran dolar melalui Luna Foundation Guard miliknya untuk mendukung UST di saat krisis.

Namun, kekhawatiran investor saat ini adalah Luna Foundation Guard berpotensi membuang Bitcoin tersebut ke pasar, menghasilkan penjualan yang lebih besar. Hal ini lah yang menjadi alasan mengapa kejatuhan dua token Terra tersebut berimbas ke Bitcoin.

 

Sumber

Baca juga: Kenalan dengan Stablecoin Terra LUNA